Kamis, 17 Agustus 2006

Lulusan SPMB 2006

Bp. H. Sony Sugema, MBA -Ketua Yayasan Taqwa Cerdas Kreatif didamping PKS Sarana SMA Alfa -Drs. Yandi WR berfoto bersama para Siswa SMA Afa Centauri Angkatan ke 1 yang lulus SPMB 2006 di depan Kampus SMA Alfa Centauri - Jl. Diponegoro 48 Bandung



SMA Alfa Centauri Bandung telah mengantarkan 21 siswa nya yang lolos SPMB masuk 3 PTN terkemuka di Bandung yakni 11 ke ITB, 6 Unpad dan 4 UPI pada SPMB Tahun 2006, Good Luck... Centurians. (yandi)

Rabu, 16 Agustus 2006

Beasiswa bagi Lulusan SMA Alfa Centauri

Bapak Bursah Zarnubi, SE dan istri ditengah
siswa-siswi SMA Alfa Centauri Bandung yang Lulus tah 2006.



Rabu, 16 Agustus 2006Suasana haru pertemuan di ruangan Kepala SMA Alfa Centauri, Jl Diponegoro 48, Bandung, Senin (14/8) lalu. Siang itu sekitar pukul 11.00, sebuah peristiwa kemanusiaan yang mengundang keharuan terjadi di sana, menyusul penyerahan uang Rp 20 juta dari tangan seorang anggota DPR RI, Bursah Zarnubi SE kepada Bella Ayu Pradawati- mewakili 20 alumni SMA Alfa Centauri yang lolos SPMB namun tak punya biaya untuk mendaftar.
Uang tersebut merupakan uang muka pembayaran pendaftaran bagi 20 siswa SMA Centauri yang lolos ke ITB, Unpad dan UPI Bandung melalui SPMB. Sisanya sekitar Rp 40 jutaan lagi akan segera menyusul, "Yang penting bagaimana supaya mereka bisa mendaftar dulu dan mengikuti perkuliahan untuk semester I. Biaya untuk perkuliahan selanjutnya akan kita upayakan lagi," kata Bursah Zarnubi SE di dampingi istrinya Ny Sri Meliyana.
Diesha Kusumaningsih, salah seorang dari alumni SMA Alfa Centauri yang diterima di MIPA ITB, usai penyerahan uang tersebut secara spontan menyampaikan ungkapan hatinya." Atas nama teman-teman saya menyampaikan terimakasih kepada Bapak Zarnubi dan Ibu yang peduli terhadap nasib kami. Bapak sungguh menjadi dewa penyelamat buat kami. Kalau Bapak tidak memberikan perhatian, sulit bagi kami untuk bisa melanjutkan ke perguruan tinggi," kata Diesha dengan suara terbata-bata tak kuasa menahan deraian air mata.
Hal senada juga disampaikan Bella Ayu Pradawati. Anak pertama dari 4 bersaudara dari pasangan Ujang Sugiarto-Sri Gustini ini mengaku sempat bingung, meski dia diterima di Fakultas Teknik ITB. Ayahnya yang semula membuka usaha bengkel bubut di daerah Cijerah, Bandung telah bangkrut saat terjadi krisis moneter beberapa tahun lalu.
" Sekarang ayah saya hanya sebagai tukang ojek. Untunglah sekarang ada yang bersedia menjadi orang tua asuh. Kami akan sekuat tenaga dan pikiran memanfaatkan kesempatan ini. Kami juga tak lupa menyampaikan terimakasih kepada Suara Karya yang mengangkat problematika kami melalui tulisan," kata Bella.
Kehadiran Bursah Zarnubi SE dan istrinya di SMA Alfa Centauri, Senin itu berawal dari membaca tulisan di rubrik Kampus Suara Karya, edisi Rabu 9 Agustus 2006. Tulisan yang melaporkan tentang pergumulan alumni SMA Alfa Centauri, Bandung yang lolos SPMB, tapi tak bisa melanjut karena ketidakmampuan orang tuanya dibaca oleh Ny Sri Meliyana saat dalam penerbangan Garuda dari Jakarta menuju Medan.
Ny Sri Meliyana lalu menunjukkan tulisan tentang alumni SMA Alfa Centauri kepada suaminya. "Istri saya terlihat sedih usai baca tulisan di Suara Karya itu, dan meminta supaya kami memikirkan kemungkinan untuk bisa menjadi orang tua asuh. Sesampai di Medan saya berusaha mencari tahu penulis laporan tersebut untuk menanyakan siapa yang bisa dihubungi kalau mau jadi orang tua asuh," kata Bursah Zarnubi SE.
Menurut Bursah, keberangkatannya ke Medan saat itu dalam kapasitasnya selaku Ketua Umum DPP Partai Bintang Reformasi untuk membuka Muswil Partai Bintang Reformasi (PBR) Sumut di Medan."Biasanya saya baca Suara Karya di DPR, namun karena keberangkatan saya ke Medan pada pagi hari, sehingga kami baru membaca Suara Karya dalam pesawat," katanya.
Secara jujur, Bursah dan istrinya mengaku, semula mereka hanya akan membantu biaya 3 atau 5 orang dari seluruh alumni SMA Centauri yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Makanya, uang yang dibawa untuk diserahkan saat itu pun hanya Rp 20 juta.
Saat bertatap muka dengan Kepala Sekolah SMA Alfa Centauri dan para alumni yang lolos SPMB, Bursah sempat juga mengungkapkan rencananya yang akan membantu 5 orang. Namun setelah semua alumni yang hadir saat itu mengutarakan bagaimana kondisi keluarga masing-masing, akhirnya Bursah Zarnubi dan istrinya tidak tega untuk membiarkan yang lain dalam pengharapan yang belum jelas.
Suasana saat terjadi dialog memang benar-benar sangat mengharukan. Betapa tidak, secara bergantian para alumni yang memang berasal dari keluarga tidak mampu itu menceritakan tentang kehidupan keluarganya. Ada yang hanya mengandalkan dari penghasilan ibunya yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga, ada juga yang ayahnya tukang ojek, buruh bangunan dan tukang pijat.
Mereka menceritakan dengan disertai isak tangis sehingga tidak saja Bursah dan istrinya yang tak kuasa menahan deraian air matanya, termasuk juga Chevi Ganda, Wakil Ketua PWI Jabar yang ikut hadir dalam acara tersebut. "Mereka benar-benar dari keluarga tidak mampu, namun dari sisi akademis memiliki tingkat kemampuan yang bisa dibanggakan. Buktinya mereka mampu lolos SPMB masuk ke ITB, Unpad dan UPI," kata Kepala Sekolah SMA Centauri, Drs Mamat Ruhimat MPd.
Tak kuasa melihat wajah sedih para alumni yang memang benar-benar berasal dari keluarga tidak mampu, akhirnya Bursah Zarnubi dan istrinya mengambil satu keputusan yang bisa mengakomodir semuanya yakni membayar Biaya Penyelenggaraan Pendidikan (BPP) Pokok dan uang kuliah untuk smester pertama. "Yang penting kita selamatkan dulu mereka bisa mendaftar dan mengikuti perkuliahan. Untuk selanjutnya akan kita upayakan, mudah-mudahan teman-teman di Senayan (DPR-red) mau membantu," kata Wakil Ketua Komisi IX DPR RI tersebut.
Wakil Ketua PWI Jabar, Chevi Ganda yang ikut menyaksikan acara tersebut juga menyampaikan rasa salut dan penghargaan atas kepedulian Bursah Zarnubi. "Mudah-mudahan langkah anggota DPR dari daerah pemilihan Sumsel ini bisa diikuti anggota DPR asal pemilihan Jawa Barat," kata Chevi Ganda.
Sebagaimana dilaporkan dalam Suara Karya (Rabu, 9 Agustus 2006), sebanyak 21 siswa alumni SMA Alfa Centauri, Bandung lolos SPMB masuk 3 PTN terkemuka di Bandung yakni 11 ke ITB, 6 Unpad dan 4 UPI. Namun karena mereka ini berasal dari keluarga miskin sehingga meskipun lolos SPMB tapi tak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi negeri yang mereka sudah inginkan sebelumnya. Karena ketidakmampuan orang tuanya itu maka selama ini pun mereka mengikuti pendidikan secara gratis di SMA Alfa Centauri yang didirikan Lembaga Bimbel SSC, Bandung. (LM Sinaga) - Harian SUARA KARYA

Rabu, 09 Agustus 2006

Alumni SMA Alfa Centauri Mencari Beasiswa



Rabu, 9 Agustus 2006Meskipun lulus dalam Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) tahun akademik 2006/2007, namun tidak lantas membuat gembira hati 21 alumni SMA Alfa Centauri, Bandung. Mereka kini berada di simpang jalan tidak tahu apakah bisa meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi negeri (PTN) pilihan setelah bersaing ketat di SPMB atau mencari pekerjaan dengan ijazah SMA-nya memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Bila melihat kemampuan akademis 21 alumni SMA Alfa Centauri, rasanya tidak rela jika cita-cita mereka melanjutkan ke pendidikan tinggi kandas begitu saja, lantaran keterbatasan ekonomi. Sebab, hampir sebagian besar dari 21 alumni SMA Alfa Centauri yang lolos SMPB berasal dari keluarga tidak mampu, mulai dari buruh bangunan, guru honorer hingga buruh cuci.
Satu diantaranya adalah Mega Yulianti, yang berhasil tembus Jurusan Teknik Fisika, Institut Teknologi Bandung, ayahnya adalah buruh bangunan di daerah Pasir Leutik, Cimuncang, Bandung. Sementara Isa Ansharullah (18), berhasil masuk jurusan Teknik Elektro ITB hanyalah anak seorang guru salah satu pesantren di Natar, Lampung Selatan.
"Saya lagi bingung sekali sekarang, masak peluang masuk Teknik Fisika, ITB kandas begitu saja. Saya berharap ada orangtua di luar sana, yang mau mengangkat saya sebagai anak asuh. Saya ingin bisa kuliah di perguruan tinggi untuk memperbaiki nasib keluarga," kata Mega kepada Suara Karya, di Bandung, belum lama ini.
Sebenarnya, ke-21 alumni SMA Alfa Centauri, Bandung yang berhasil tembus bangku PTN itu bukan tidak menyadari akan keterbatasan ekonomi orang tuanya. Mereka sadar betul, dan karena itu pula ketika akan memasuki jenjang sekolah sekolah menengah atas (SMA), mereka berusaha keras agar bisa diterima di SMA Alfa Centauri Bandung- sekolah gratis yang didirikan Sony Sugema-pemilik Bimbingan Belajar (Bimbel) Sony Sugema.
Para siswa selain dibebaskan dari biaya pendidikan juga mendapat buku pelajaran gratis. Seluruh biaya operasional, termasuk gaji tenaga pengajar dan buku-buku ditanggung sepenuhnya oleh Lembaga Bimbingan Belajar Sony Sugema.
SMA Alfa Centauri didirikan sejak tahun 2003 dengan menempati sebuah bangunan di Jl Diponegoro 48, Bandung. Bangunan itu merupakan tempat bimbingan belajar Sony Sugema. "Pagi dimanfaatkan untuk kegiatan sekolah, dan sorenya dipakai untuk bimbingan belajar," kata Ketua Yayasan Taqwa Cerdas Kreatif, H Sony Sugema MBA.
Ide H Sony Sugema mendirikan SMA tanpa memungut biaya itu, karena dia melihat kenyataan ada banyak anak-anak Indonesia yang sesungguhnya memiliki kemampuan akademis tinggi, tetapi tidak bisa meneruskan pendikan karena alasan ekonomi.
Selama ini rata-rata biaya operasional dan gaji guru di SMA Alfa Centauri disebutkan Sony sebesar Rp 12 juta per bulan sehingga biaya penyelenggaraan SMA tersebut selama satu tahun bisa mencapai Rp 150 juta.
Penerimaan masuk SMA Alfa Centauri ini dilakukan melalui seleksi ketat karena jumlah peminatnya setiap tahun cukup besar. Rata-rata jumlahnya mencapai 400 sampai 500 orang yang berasal dari kota-kota di sekitar Bandung, tetapi tidak menutup diri dari luar provinsi Jawa Barat.
Dari sekian ratus pendaftar yang mengikuti seleksi, pihak sekolah menetapkan dulu 100 orang yang memiliki nilai ujian tertinggi. Dari 100 orang tersebut, kemudian dilihat latar belakang ekonomi keluarganya.
Kalaupun ada anak yang kemampuan akademis tidak terlalu bagus tetapi dari keluarga kurang mampu, mereka tetap diberi kesempatan. "Jadi banyak juga yang NEM-nya rendah. Selama mengikuti pendidikan di sekolah ini, mereka ditempa menjadi orang-orang pintar," kata Sony menegaskan.
Ditambahkan, SMA Alfa Centauri dikelola dengan kombinasikan gaya bimbel. Tenaga pengajarnya berasal dari guru-guru bimbel dan sejak kelas dua, siswa sudah mulai diikutsertakan mengikuti bimbingan belajar. "Jadi pagi sekolah mengikuti kurikulum biasa, dan sorenya mengikuti bimbingan belajar," tuturnya.
Sekolah itu juga mendapat fasilitas komputer dan laboratorium yang dimiliki lembaga Bimbel Sony Sugema. Selain itu juga ada English Club untuk belajar bahasa Inggris. "Kita memang justru berusaha menjadikan sekolah ini menjadi sekolah unggulan," kata Kepala SMA Alfa Centauri Drs Mamat Ruhimat MPd menambahkan.
Upaya pendiri dan pengelola SMA Alfa Centauri menjadikan sekolah unggulan memang tidak sia-sia. Itu bisa dibuktikan dari 27 lulusan perdana SMA Alfa Centauri yang mengikuti SPMB, ternyata 21 di antaranya (80 persen) berhasil diterima di 4 perguruan tinggi negeri terkemuka di Bandung.
"Sebenarnya angkatan pertama SMA Alfa Centauri yang menjadi alumni perdana berjumlah 36 orang. Namun dari 36 orang itu, hanya 27 yang mengikuti SPMB. Yang lainnya sengaja tidak ikut SPMB karena untuk beli formulir saja mereka tidak memiliki biaya. Beli formulir paling rendah Rp 150 ribu," kata Sony Sugema.
Untuk itu, selain berjuang untuk mencari orang tua asuh bagi 21 alumni yang kini diterima di 3 PTN di Bandung, pihaknya sudah membentuk tim khusus yang akan melakukan pendekatan ke 3 PTN di Bandung tersebut.
Siswa alumni SMA Alfa Centauri yang lulus SPMB, antara lain, 11 orang diterima di ITB (1 orang di Teknik Penerbangan, 1 Teknik Fisika, 3 Teknik Elektro, 4 MIPA, 1 Teknik Lingkungan dan 1 Pertambangan), 4 orang di Universitas Padjajaran ( 1 FKG dan 3 Perairan). (LM Sinaga) - HARIAN SUARA KARYA

Sabtu, 29 Juli 2006

Siswa Angkatan 2006-2007

Siswa Angkatan 2006-2007.
Kelas X (2006-2007), Kelas XI (2007-2008), Kelas XI (2008-2009).

Jumat, 29 Juli 2005

VISI & MISI SMA ALFA CENTAURI

SMA Alfa Centauri mempunyai visi ke depan yang berlandaskan Imtak dan Iptek yaitu Iman dan Taqwa juga Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
  • Taqwa : membuat seorang siswa yang berakhlaq baik. (tidak tawuran, bermoral tinggi).
  • Mempunyai Kreatifitas (mengembangkan otak kanan, membangkitkan kreatifitas, berwawasan Entrepreneurship) (mengembangkan otak kiri,
  • Cerdas membangkitkan otak kiri , nalar, diharapkan bisa menembus ujian masuk perguruan tinggi berkualitas)
    Materi Pelajaran – Disesuaikan dengan kurikulum pemerintah sehingga dapat membentuk manusia Indonesia taqwa, cerdas, dan kreatif.
  • Siswa diarahkan mampu menembus ujian masuk perguruan tinggi berkualitas, dengan menempuh tahap-tahap TRY OUT, konsultasi, sehingga dapat meningkatkan tingkat pendidikannya.
  • Teknologi : pelajaran komputer dari lembaga pendidikan computer dan IT, Q-College, sehingga diharapkan setelah 3 tahun siswa dapat menguasai dasar IT dan bersertifikat. (seorang siswa sudah dapat bekerja di perusahaan Bidang IT).

Pada dasarnya setiap sekolah memberikan pelajaran yang sesuai dengan aturan yang telah digariskan oleh Dinas Pendidikan, namun demikian, Alfa Centauri memiliki misi 2 keunggulan sebagai berikut :

  • Materi Pelajaran : Pada kelas tiga nanti siswa diarahkan dapat menembus ujian masuk perguruan tinggi berkualitas dengan menempuh tahap-tahap TRY OUT, Konsultasi.
  • Teknologi : pelajaran Komputer dari lembaga pendidikan komputer dan IT (Information & Technology) Q-College yang beralamat di Jl. Supratman 88 Bandung, diharapkan setelah 3 tahun siswa dapat menguasai dasar IT dan bersertifikat. (selain melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi siswa yang baru lulus tersebut sudah dapat bekerja di perusahaan bidang IT).

Latar Belakang Pendirian SMA Alfa Centauri

Dewasa ini kebutuhan akan pendidikan semakin meningkat dari masa ke masa. Namun seiring dengan berkembangnya pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya biaya hidup, ada sebagian keluarga yang kurang mampu secara finansial namun putra-putrinya berprestasi dan berpotensi untuk maju menghadapi kendala untuk melanjutkan ke SMA yang mereka idamkan.

Dalam rangka menjawab tantangan tersebut, kami menerima siswa/siswi lulusan 3 SLTP TANPA DIPUNGUT BIAYA dengan syarat orangtua mereka berpenghasilan dibawah 1 juta rupiah per bulan. Walaupun sekolah kami ini gratis, Insya Allah sekolah kami berkualitas. Seluruh biaya pendidikan ditanggung oleh Sony Sugema Group sebagai sumbangsih SSGroup untuk dunia kependidikan.

Pada awal pendirian SMA Alfa Centauri ini, kami menerima 40 orang siswa (tahun ajaran 2003/2004) dari 400 siswa yang mendaftar. Pada Tahun 2005 kami mendidik 3 kelas yaitu kelas X angkatan Th 2005, kelas XI angakatan th 2004 dan Kelas III angkatan pertama yaitu th 2003.Kami menyediakan fasilitas kelas yang cukup memadai dan ber AC, lab komputer 1 siswa 1 komputer, guru-guru berkualitas, fasilitas internet 24 jam dan disiapkan untuk menciptakan manusia Indonesia yang taqwa, cerdas, dan kreatif, serta diharapkan mampu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi berkualitas seperti ITB UNPAD, UI, UPI, dll.Pendirian SMA Alfa Centauri yang berada dibawah Yayasan Taqwa Cerdas Kreatif ini semoga dapat membantu para siswa dan masyarakat umum yang mendapat kesulitan dalam meneruskan ke jenjang Sekolah Menengah Umum yang mereka idamkan, semoga.

Program Kerja Yayasan secara rutin memberikan pembinaan kepada pengelola SMA Alfa Centauri, baik berupa pandangan terhadap program-program yang disusun pengelola hingga rencana pendanaan bagi seluruh kegiatan-kegiatan SMA Alfa Centauri.Arti Alfa Centauri sendiri artinya 2 bintang di langit, yaitu bintang yang paling dekat dengan matahari. Diharapkan siswa/siswi SMA Alfa Centauri akan menjadi bintang-bintang bangsa yang berpretasi di masa yang akan datang.Adapun latar belakang mengapa didirikan SMA Gratis Alfa centauri ini didasarkan kepada fakta sebagai berikut :Terbatasnya dana dari pemerintah mengakibatkan lembaga pendidikan membebankan biaya pendidikan terhadap masyarakat,Biaya pendidikan semakin tinggiPrinsip keadilan bagi keluarga yang secara ekonomi tidak mampu tapi ingin menyekolahkan anaknya yang berkemampuan alias pintarMemanfaatkan idle capacity yaitu RUANG BELAJAR dan SDM (pengajar) di SS Group.

Tujuan Alfa Centauri diantaranya adalah :Mendidik siswa/siswi Alfa Centauri agar menjadi insan yang taqwa, cerdas dan kreatif: yang taqwa yaitu siswa yang berakhlaq baik. (tidak tawuran, bermoral tinggi). Kreatif (mengembangkan otak kanan, membangkitkan kreatifitas, berwawasan Entrepreneurship), Cerdas (mengembangkan otak kiri, membangkitkan otak kiri, nalar, diharapkan bisa menembus ujian masuk perguruan tinggi berkualitas)Membantu pemerintah dalam bidang pendidikan, khususnya pendidikan di tingkat Sekolah Menengah Umum.Membantu orang tua siswa yang kurang mampu yang ingin menyekolahkan putra/putrinya di tingkat SMAMembantu Anak yatim/piatu yang ingin bersekolah di tingkat SMA - yandiwr - SMA Alfa Centauri

Senin, 02 Mei 2005

Sekolah Alternatif Bagi Kaum Miskin

Perlu Dukungan Dana dari Pengusaha
Sekolah Alternatif Bagi Kaum Miskin

BERDASARKAN data BPS, penduduk miskin Indonesia pada 2003 sebanyak 37 juta jiwa. Mayoritas kaum papa ini hidup di pedesaan dengan fasilitas untuk menopang kehidupan mereka sehari-hari sangat terbatas.
Keberadaan rumah sakit, sekolah di banyak pedesaan di negara kita masih belum mampu mengakomodasi hak-hak dasar kaum miskin. Kehidupan mereka yang secara finansial amat lemah semakin membuat mereka sulit untuk mengakses fasilitas-fasilitas pendidikan atau kesehatan yang jumlahnya sangat terbatas itu.
Jika banyak dari masyarakat kita yang sampai saat ini sulit untuk mengakses kebutuhan dasar seperti pendidikan, bagaimana program wajib belajar 9 tahun bisa berjalan sukses?
Tidak meratanya pembangunan di negara ini telah membuat sejumlah wilayah masih terisolasi. Sebagai contoh, banyak area yang sampai kini belum memilik sarana transportasi dan komunikasi yang memadai.
Kita bisa bayangkan, bagaimana masyarakat yang hidup di tempat-tempat terpencil dan di sejumlah area lainnya yang merupakan kantung-kantung kemiskinan akan sangat sulit untuk mengakses pendidikan wajar 9 tahun?
Begitu juga dengan akses pendidikan bagi masyarakat yang tinggal di wilayah-wilayah konflik, seperti Poso, Ambon, dan lain-lain. Tidak bisa disangkal, masih tingginya tingkat konflik horizontal berimplikasi buruk terhadap pelaksanaan wajar 9 tahun.
Akibatnya, banyak mereka yang tinggal di daerah konflik, akses untuk mendapat pendidikan menjadi terputus sama sekali. Hal ini tentunya tidak bisa dibiarkan. Bagaimanapun, pendidikan untuk masyarakat yang tinggal di wilayah konflik juga harus bisa diakomodasi. Bukankah program wajar 9 tahun itu harus diikuti seluruh masyarakat Indonesia tanpa kecuali?
Untunglah sejumlah kelompok masyarakat kita yang peduli dengan kaum marginal di negara ini mampu memberikan kontribusi positif berupa pembuatan sejumlah sekolah khusus orang miskin. Mereka percaya, pendidikan merupakan obat mujarab untuk mengubah seseorang, dari yang miskin menjadi tidak miskin, dari yang bodoh menjadi berpengetahuan.
Sejumlah model sekolah pun mereka kembangkan untuk pendidikan kaum miskin. Di antaranya, model sekolah alternatif di Salatiga, sekolah gratis Alfa Centauri di Bandung, dan model sekolah di wilayah-wilayah konflik. Berikut ini akan diulas sejumlah sekolah yang bisa dikatakan cukup berhasil mengakomodasi hak-hak orang miskin untuk mendapatkan pengajaran.
QT dan Centauri
Penyelenggaraan model sekolah alternatif di Salatiga, yakni SMP alternatif Qaryah Thayyibah (QT) terbilang sangat sukses. Bahkan, gaung kesuksesan sekolah tersebut terkenal di Indonesia. Sekolah itu pun kini jadi inspirasi bagi masyarakat di wilayah lain untuk membuat sekolah sejenis SMP alternatif QT.
Ide pembuatan SMP alternatif QT di Desa Kalibening, Salatiga berangkat dari keprihatinan Baharuddin, warga desa setempat yang kini menjabat sebagai kepala di sekolah tersebut, atas mahalnya biaya pendidikan. Masyarakat setempat yang hidup dalam kemiskinan, tidak akan mampu menyekolahkan anak-anaknya. Untuk kehidupan sehari-hari saja warga Kalibening sudah sulit memenuhinya, apalagi menyediakan biaya sekolah, buku, transportasi. Akibatnya, banyak anak di desa itu yang hanya bersekolah sampai SD, itu pun banyak yang tidak lulus.
Melihat kondisi desanya itu, Baharuddin menginginkan adanya perubahan dan dia pun segera memutuskan untuk mendirikan sekolah setingkat SMP untuk membantu warga miskin mengakses pendidikan murah dan berkualitas.
Melalui rembukan di antara warga setempat, disepakati pembuatan sekolah alternatif QT yang kurikulumnya tetap didasarkan pada kurikulum nasional (kurnas). Hanya, pada sekolah QT, muatan pengetahuan teknologi informasi dan bahasa Inggris mendapat porsi yang lebih banyak.
Bantuan koneksi internet dari kawan Baharuddin membuat sekolah QT tidak pernah putus dengan jaringan informasi dunia. Para anak didik semangat untuk menggunakan internet guna menghapuskan rasa haus mereka akan ilmu. Hasilnya, sekolah QT bisa unggul jauh dibandingkan sekolah induknya. Bahkan, sejumlah muridnya berhasil menjuarai kontes pidato bahasa Inggris mengalahkan para siswa yang berasal dari sekolah yang berbiaya mahal.
Meski mengadopsi kurnas, Baharuddin mengadopsi pendidikan yang membebaskan muridnya berperan aktif dalam kelas. Para murid, yang merupakan anak-anak dari buruh tani setempat, begitu lantang berbicara di kelas. Mereka berani mengemukakan pendapatnya sendiri. Tentunya, sikap-sikap seperti ini sangat baik sebagai modal mereka untuk mengarungi kehidupan nanti.
Selain sekolah QT di Salatiga, di Bandung ada juga sekolah yang dikhususkan untuk orang miskin, yakni SMA Alfa Centauri. Sekolah ini digagas oleh Sony Sugema, salah seorang pengusaha bimbingan belajar (bimbel). Sony melihat banyak orang miskin yang pintar tidak bisa meneruskan sekolah karena keterbatasan finansial orang tua mereka.
Akhirnya, dengan mengalokasikan sejumlah keuntungan bisnisnya, SMA Alfa Centauri pun didirikan pada Juli 2003. Sekolah ini memang benar-benar gratis. Tidak heran, banyak yang tertarik untuk sekolah di sana. Tentu saja, tidak semua bisa diterima. Karena itu, pihak penyelenggara pendidikan di SMA Alfa Centauri mengadakan seleksi untuk memilih siapa saja yang berhak sekolah di SMA yang terletak di Jln. Supratman Bandung itu.
Model sekolah ala Sony ini seharusnya bisa juga diteladani para pengusaha lainnya. Bagaimanapun, suksesnya wajar 9 tahun butuh kerja sama dari berbagai pihak, termasuk melibatkan peran aktif pengusaha sebagai penyokong dana guna terselenggaranya pendidikan yang berkualitas dan mengakomodasi kepentingan orang miskin.
Daerah konflik
Model sekolah alternatif di sejumlah wilayah konflik, berawal dari hancurnya fasilitas pendidikan seperti yang terjadi di Poso, Sulawesi Tengah pascakonflik Mei 2000. Agar hak masyarakat mengakses pendidikan dasar tidak terputus, sejumlah masyarakat dan LSM yang peduli dengan pendidikan, memutuskan membuat sekolah alternatif.
Para siswa di wilayah Poso dikumpulkan tanpa melihat perbedaan latar belakang mereka, baik dari unsur sara maupun status ekonomi. Para anak didik diberikan pengertian bahwa perbedaan suku, agama di antara mereka bukan sesuatu yang harus dipertentangkan.
Tentu saja, peran mentor atau guru pembimbing untuk mendidik anak-anak di wilayah konflik sangat vital. Para mentor ini harus mampu menangkap gejolak psikologis yang mungkin timbul akibat trauma setelah menyaksikan kerusuhan sosial di wilayah mereka tinggal.
Tentu saja, masyarakat yang hidup di wilayah konflik punya banyak keterbatasan, baik dari aspek ekonomi maupun aspek lainnya, sehingga kehidupan mereka ditopang dana dari pemerintah atau lembaga lainnya. Karena itu, untuk pembiayaan pembuatan sekolah alternatif di wilayah konflik, sudah jelas para orang tua harus dibebaskan dari biaya pendidikan anak-anak mereka. (Icha/”PR”)*** PIKIRAN RAKYAT - Senin, 02 Mei 2005