Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Agustus 2007

Siswa Berprestasi Butuh Uluran Tangan

BANDUNG -- Sebanyak 15 siswa berprestasi lulusan Sekolah Menengah Atas Alfa Centauri, membutuhkan bantuan biaya pendidikan. Para siswa yang telah memasuki perguruan tinggi favorit pada SPMB 2007 itu, merupakan siswa yang memiliki kemampuan akademik baik.
''Mereka adalah siswa lulusan SMA Alfa Centauri yang tidak mampu, tapi mempunyai kemampuan akademik yang baik,'' kata Arif salah satu pengasuh di SMA Alfa Centauri, dalam rilis yang dikirim kepada Republika, belum lama ini.
Kata dia, SMA Alfa Centauri ini berada di bawah Yayasan Taqwa Cerdas Kreatif. Sekolah itu, ujar Arif, tidak memungut biaya (memberikan subsidi) kepada siswanya terutama yang tidak mampu.
Ke-15 siswa tersebut adalah Aceng Mumin (ilmu komputer UPI), Anggia (pendidikan kimia UPI), Aryyana RB (agronomi Unpad), Dini SN (biologi UPI), Endah Juarsih (pemuliaan tanaman Unpad), Eneng Rani (MIPA ITB), Fajar Nur (perikanan Unpad), M Reza Pratama (pertanian Unpad), Oki Ari M (pertambangan dan perminyakan ITB), Ratna Juwita Sari (farmasi ITB), Sinta Lestari (Mipa ITB), Surti Nurhamidah (Fisika Unpad), Bayu Eko (ilmu komputer UPI), Bobby Rifki (teknik sipil ITB), dan Maryam (pertanian Unpad).
''Pada 2007 ini, SMA Alfa Centauri berhasil mengantarkan mereka pada kelulusan UN 2007, 100 persen lulus dan kelulusan SPMB 2007 sebanyak 15 orang dari 20 orang yang mengikuti SPMB,'' kata Arif. mj01 - HARIAN REPUBLIKA - 27 Agustus 2007

Sabtu, 02 Desember 2006

Kunjungan dari Negeri Jiran - Malaysia

2 orang siswa kls X sedang melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an diluar kepala (satu juz) dihadapan Tamu (gambar 3) dari Negeri Malaysia dan dari Pesantren Al Fatah Cileungsi Bogor dan Lampung yang berkunjung ke SMA Alfa Centauri pada 2 Desember 2005 lalu. (yr/XII/2005)

Pada Hari Jum'at 2 Desember 2005, SMA Alfa Centauri di Jl. Diponegoro No. 48 Bandung mendapat Kunjungan tamu untuk Studi Banding bidang Pendidkan dari Malaysia yaitu Bp. Ahmad Sukri.

Senin, 18 September 2006

Sekolah Gratis dengan Kualifikasi Sekolah Unggulan

Waktu itu, orang tua saya sudah menyerah. Mereka meminta maaf karena tidak bisa lagi membiayai saya untuk sekolah," ungkap Mega Yulianti, mahasiswi Teknik Fisika ITB. Dia memang hidup dari keluarga yang berkemampuan ekonomi menengah ke bawah. Ayahnya yang bekerja sebagai buruh bangunan, hanya mampu membiayai sekolah Mega hingga jenjang SLTP.
Untunglah, Mega punya kemauan yang kuat untuk terus bersekolah. Dia pun berusaha mencari informasi tentang sekolah gratis. Sampailah jalan pencariannya itu menemukan SMA Alfa Centauri, Bandung. Sekolah ini memang menawarkan pendidikan gratis dan berkualitas. Keberadaan sekolah ini menjadi jalan keluar bagi Mega untuk mewujudkan 'mimpinya'.
Pengakuan hampir sama juga diungkapkan Adha Dipraja dan Deisa Kusumaningsih (keduanya mahasiswa FMIPA ITB). Mereka semua adalah angkatan pertama SMA Alfa Centauri yang kini berhasil menembus perguruan tinggi negeri dan berasal dari keluarga tidak mampu.
Sebanyak 21 siswa, tahun ini berhasil menembus bangku perguruan tinggi negeri. Kebanyakan mereka masuk ITB dan sisanya masuk Unpad, serta Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Meski telah menjadi alumni, mereka tetap mendapat perhatian dari para pengurus SMA Alfa Centauri.
Sekolah ini memang terbilang istimewa. Meski menyediakan pendidikan gratis, kualitas pengajarannya tidak kalah dibanding SMA unggulan. Selain belajar di sekolah, semua muridnya mendapat bimbingan belajar gratis untuk mampu menghadapi seleksi penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi negeri. Tak cuma itu, mereka juga mendapat pelajaran tambahan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris dan Arab.
Ketua Yayasan Taqwa Cerdas Kreatif --lembaga yang menaungi SMA Alfa Centauri-- Sony Sugema, menjelaskan bahwa sekolah tersebut memang didirikan untuk membantu kalangan yang kurang mampu. Tingginya biaya pendidikan telah membuat banyak kalangan frustasi karena tidak mampu menyekolahkan anaknya. Menurut dia, jika terus dibiarkan, rasa frustasi ini bisa membahayakan masyarakat. Karena itu, dia pun terdorong untuk menciptakan jalan alternatif berupa sekolah gratis bagi kalangan tidak mampu.
Tiga angkatan pertama sekolah ini, sedikitpun tidak dipungut biaya. Dalam tiga tahun pertama, sebanyak 35 siswa diterima untuk setiap angkatan. Untuk menjalankan pengajaran di tiap angkatan, dia mengeluarkan dana sekitar Rp 50 juta per tahun.
Seleksi untuk bisa masuk sekolah pun cukup ketat. Tiap tahun, rata-rata pendaftar mencapai 600 orang. Dari jumlah itu kemudian diciutkan menjadi 400 orang dan diseleksi kembali menjadi tinggal 100 orang. Dari 100 calon murid ini kemudian diseleksi lewat wawancara. Murid-murid yang berasal dari keluarga kurang mampu mendapat prioritas. Dari 100 orang tersebut, kemudian diambil 35 orang.
"Mulai tahun ini, kita menerima dua kelas," tuturnya. Sebagian kecil dari murid yang diterima tahun ini dikenai biaya yang besarnya tergantung kesanggupan orang tua masing-masing. Namun sebagian besar muridnya tetap digratiskan. Sony berharap, biaya yang dibayarkan sebagian wali murid itu bisa digunakan untuk membantu murid-murid kurang mampu. "Jadi berjalan subsidi silang," ungkap pemilik bimbingan belajar Sony Sugema College itu.
Dia berharap, murid-murid Alfa Centauri di masa mendatang bisa go international. Untuk mewujudkan harapan tersebut, kini pihaknya sedang membangun jaringan internet 24 jam. "Kami pun menggiatkan bahasa Inggris, karena kunci untuk masuk kehidupan di dunia maya ini adalah bahasa Inggris," tuturnya.
Lewat jaringan internet, Sony menginginkan murid-muridnya bisa berkomunikasi dengan teman sebayanya dari luar negeri. Sony berharap, suatu saat nanti murid-murid sekolahnya tertantang untuk menjajal kuliah di kampus-hampus internasional.
Kini, selain harus memikirkan kelangsungan SMA tersebut, dia juga terus memperhatikan nasib para alumni yang berhasil masuk perguruan tinggi negeri. Bersama timnya, dia terus berusaha mencari donatur untuk membiayai kuliah para alumninya itu. Maklumlah, setelah perguruan tinggi banyak berstatus badan hukum milik negara (BHMN) biaya kuliah pun melonjak.
Diantaranya dengan mengembangkan program orang tua asuh. Orang tua murid yang mampu dan anaknya berhasil masuk perguruan tinggi negeri, bakal diminta untuk menjadi orang tua asuh bagi murid tak mampu yang masuk perguruan tinggi negeri. Lewat cara ini, dia pun berharap dari SMA Alfa Centauri lahir para penemu-penemu kemajuan yang bermanfaat bagi masyarakat. irf - Republika - 18 September 2006

Rabu, 16 Agustus 2006

Beasiswa bagi Lulusan SMA Alfa Centauri

Bapak Bursah Zarnubi, SE dan istri ditengah
siswa-siswi SMA Alfa Centauri Bandung yang Lulus tah 2006.



Rabu, 16 Agustus 2006Suasana haru pertemuan di ruangan Kepala SMA Alfa Centauri, Jl Diponegoro 48, Bandung, Senin (14/8) lalu. Siang itu sekitar pukul 11.00, sebuah peristiwa kemanusiaan yang mengundang keharuan terjadi di sana, menyusul penyerahan uang Rp 20 juta dari tangan seorang anggota DPR RI, Bursah Zarnubi SE kepada Bella Ayu Pradawati- mewakili 20 alumni SMA Alfa Centauri yang lolos SPMB namun tak punya biaya untuk mendaftar.
Uang tersebut merupakan uang muka pembayaran pendaftaran bagi 20 siswa SMA Centauri yang lolos ke ITB, Unpad dan UPI Bandung melalui SPMB. Sisanya sekitar Rp 40 jutaan lagi akan segera menyusul, "Yang penting bagaimana supaya mereka bisa mendaftar dulu dan mengikuti perkuliahan untuk semester I. Biaya untuk perkuliahan selanjutnya akan kita upayakan lagi," kata Bursah Zarnubi SE di dampingi istrinya Ny Sri Meliyana.
Diesha Kusumaningsih, salah seorang dari alumni SMA Alfa Centauri yang diterima di MIPA ITB, usai penyerahan uang tersebut secara spontan menyampaikan ungkapan hatinya." Atas nama teman-teman saya menyampaikan terimakasih kepada Bapak Zarnubi dan Ibu yang peduli terhadap nasib kami. Bapak sungguh menjadi dewa penyelamat buat kami. Kalau Bapak tidak memberikan perhatian, sulit bagi kami untuk bisa melanjutkan ke perguruan tinggi," kata Diesha dengan suara terbata-bata tak kuasa menahan deraian air mata.
Hal senada juga disampaikan Bella Ayu Pradawati. Anak pertama dari 4 bersaudara dari pasangan Ujang Sugiarto-Sri Gustini ini mengaku sempat bingung, meski dia diterima di Fakultas Teknik ITB. Ayahnya yang semula membuka usaha bengkel bubut di daerah Cijerah, Bandung telah bangkrut saat terjadi krisis moneter beberapa tahun lalu.
" Sekarang ayah saya hanya sebagai tukang ojek. Untunglah sekarang ada yang bersedia menjadi orang tua asuh. Kami akan sekuat tenaga dan pikiran memanfaatkan kesempatan ini. Kami juga tak lupa menyampaikan terimakasih kepada Suara Karya yang mengangkat problematika kami melalui tulisan," kata Bella.
Kehadiran Bursah Zarnubi SE dan istrinya di SMA Alfa Centauri, Senin itu berawal dari membaca tulisan di rubrik Kampus Suara Karya, edisi Rabu 9 Agustus 2006. Tulisan yang melaporkan tentang pergumulan alumni SMA Alfa Centauri, Bandung yang lolos SPMB, tapi tak bisa melanjut karena ketidakmampuan orang tuanya dibaca oleh Ny Sri Meliyana saat dalam penerbangan Garuda dari Jakarta menuju Medan.
Ny Sri Meliyana lalu menunjukkan tulisan tentang alumni SMA Alfa Centauri kepada suaminya. "Istri saya terlihat sedih usai baca tulisan di Suara Karya itu, dan meminta supaya kami memikirkan kemungkinan untuk bisa menjadi orang tua asuh. Sesampai di Medan saya berusaha mencari tahu penulis laporan tersebut untuk menanyakan siapa yang bisa dihubungi kalau mau jadi orang tua asuh," kata Bursah Zarnubi SE.
Menurut Bursah, keberangkatannya ke Medan saat itu dalam kapasitasnya selaku Ketua Umum DPP Partai Bintang Reformasi untuk membuka Muswil Partai Bintang Reformasi (PBR) Sumut di Medan."Biasanya saya baca Suara Karya di DPR, namun karena keberangkatan saya ke Medan pada pagi hari, sehingga kami baru membaca Suara Karya dalam pesawat," katanya.
Secara jujur, Bursah dan istrinya mengaku, semula mereka hanya akan membantu biaya 3 atau 5 orang dari seluruh alumni SMA Centauri yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Makanya, uang yang dibawa untuk diserahkan saat itu pun hanya Rp 20 juta.
Saat bertatap muka dengan Kepala Sekolah SMA Alfa Centauri dan para alumni yang lolos SPMB, Bursah sempat juga mengungkapkan rencananya yang akan membantu 5 orang. Namun setelah semua alumni yang hadir saat itu mengutarakan bagaimana kondisi keluarga masing-masing, akhirnya Bursah Zarnubi dan istrinya tidak tega untuk membiarkan yang lain dalam pengharapan yang belum jelas.
Suasana saat terjadi dialog memang benar-benar sangat mengharukan. Betapa tidak, secara bergantian para alumni yang memang berasal dari keluarga tidak mampu itu menceritakan tentang kehidupan keluarganya. Ada yang hanya mengandalkan dari penghasilan ibunya yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga, ada juga yang ayahnya tukang ojek, buruh bangunan dan tukang pijat.
Mereka menceritakan dengan disertai isak tangis sehingga tidak saja Bursah dan istrinya yang tak kuasa menahan deraian air matanya, termasuk juga Chevi Ganda, Wakil Ketua PWI Jabar yang ikut hadir dalam acara tersebut. "Mereka benar-benar dari keluarga tidak mampu, namun dari sisi akademis memiliki tingkat kemampuan yang bisa dibanggakan. Buktinya mereka mampu lolos SPMB masuk ke ITB, Unpad dan UPI," kata Kepala Sekolah SMA Centauri, Drs Mamat Ruhimat MPd.
Tak kuasa melihat wajah sedih para alumni yang memang benar-benar berasal dari keluarga tidak mampu, akhirnya Bursah Zarnubi dan istrinya mengambil satu keputusan yang bisa mengakomodir semuanya yakni membayar Biaya Penyelenggaraan Pendidikan (BPP) Pokok dan uang kuliah untuk smester pertama. "Yang penting kita selamatkan dulu mereka bisa mendaftar dan mengikuti perkuliahan. Untuk selanjutnya akan kita upayakan, mudah-mudahan teman-teman di Senayan (DPR-red) mau membantu," kata Wakil Ketua Komisi IX DPR RI tersebut.
Wakil Ketua PWI Jabar, Chevi Ganda yang ikut menyaksikan acara tersebut juga menyampaikan rasa salut dan penghargaan atas kepedulian Bursah Zarnubi. "Mudah-mudahan langkah anggota DPR dari daerah pemilihan Sumsel ini bisa diikuti anggota DPR asal pemilihan Jawa Barat," kata Chevi Ganda.
Sebagaimana dilaporkan dalam Suara Karya (Rabu, 9 Agustus 2006), sebanyak 21 siswa alumni SMA Alfa Centauri, Bandung lolos SPMB masuk 3 PTN terkemuka di Bandung yakni 11 ke ITB, 6 Unpad dan 4 UPI. Namun karena mereka ini berasal dari keluarga miskin sehingga meskipun lolos SPMB tapi tak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi negeri yang mereka sudah inginkan sebelumnya. Karena ketidakmampuan orang tuanya itu maka selama ini pun mereka mengikuti pendidikan secara gratis di SMA Alfa Centauri yang didirikan Lembaga Bimbel SSC, Bandung. (LM Sinaga) - Harian SUARA KARYA

Senin, 02 Mei 2005

Sekolah Alternatif Bagi Kaum Miskin

Perlu Dukungan Dana dari Pengusaha
Sekolah Alternatif Bagi Kaum Miskin

BERDASARKAN data BPS, penduduk miskin Indonesia pada 2003 sebanyak 37 juta jiwa. Mayoritas kaum papa ini hidup di pedesaan dengan fasilitas untuk menopang kehidupan mereka sehari-hari sangat terbatas.
Keberadaan rumah sakit, sekolah di banyak pedesaan di negara kita masih belum mampu mengakomodasi hak-hak dasar kaum miskin. Kehidupan mereka yang secara finansial amat lemah semakin membuat mereka sulit untuk mengakses fasilitas-fasilitas pendidikan atau kesehatan yang jumlahnya sangat terbatas itu.
Jika banyak dari masyarakat kita yang sampai saat ini sulit untuk mengakses kebutuhan dasar seperti pendidikan, bagaimana program wajib belajar 9 tahun bisa berjalan sukses?
Tidak meratanya pembangunan di negara ini telah membuat sejumlah wilayah masih terisolasi. Sebagai contoh, banyak area yang sampai kini belum memilik sarana transportasi dan komunikasi yang memadai.
Kita bisa bayangkan, bagaimana masyarakat yang hidup di tempat-tempat terpencil dan di sejumlah area lainnya yang merupakan kantung-kantung kemiskinan akan sangat sulit untuk mengakses pendidikan wajar 9 tahun?
Begitu juga dengan akses pendidikan bagi masyarakat yang tinggal di wilayah-wilayah konflik, seperti Poso, Ambon, dan lain-lain. Tidak bisa disangkal, masih tingginya tingkat konflik horizontal berimplikasi buruk terhadap pelaksanaan wajar 9 tahun.
Akibatnya, banyak mereka yang tinggal di daerah konflik, akses untuk mendapat pendidikan menjadi terputus sama sekali. Hal ini tentunya tidak bisa dibiarkan. Bagaimanapun, pendidikan untuk masyarakat yang tinggal di wilayah konflik juga harus bisa diakomodasi. Bukankah program wajar 9 tahun itu harus diikuti seluruh masyarakat Indonesia tanpa kecuali?
Untunglah sejumlah kelompok masyarakat kita yang peduli dengan kaum marginal di negara ini mampu memberikan kontribusi positif berupa pembuatan sejumlah sekolah khusus orang miskin. Mereka percaya, pendidikan merupakan obat mujarab untuk mengubah seseorang, dari yang miskin menjadi tidak miskin, dari yang bodoh menjadi berpengetahuan.
Sejumlah model sekolah pun mereka kembangkan untuk pendidikan kaum miskin. Di antaranya, model sekolah alternatif di Salatiga, sekolah gratis Alfa Centauri di Bandung, dan model sekolah di wilayah-wilayah konflik. Berikut ini akan diulas sejumlah sekolah yang bisa dikatakan cukup berhasil mengakomodasi hak-hak orang miskin untuk mendapatkan pengajaran.
QT dan Centauri
Penyelenggaraan model sekolah alternatif di Salatiga, yakni SMP alternatif Qaryah Thayyibah (QT) terbilang sangat sukses. Bahkan, gaung kesuksesan sekolah tersebut terkenal di Indonesia. Sekolah itu pun kini jadi inspirasi bagi masyarakat di wilayah lain untuk membuat sekolah sejenis SMP alternatif QT.
Ide pembuatan SMP alternatif QT di Desa Kalibening, Salatiga berangkat dari keprihatinan Baharuddin, warga desa setempat yang kini menjabat sebagai kepala di sekolah tersebut, atas mahalnya biaya pendidikan. Masyarakat setempat yang hidup dalam kemiskinan, tidak akan mampu menyekolahkan anak-anaknya. Untuk kehidupan sehari-hari saja warga Kalibening sudah sulit memenuhinya, apalagi menyediakan biaya sekolah, buku, transportasi. Akibatnya, banyak anak di desa itu yang hanya bersekolah sampai SD, itu pun banyak yang tidak lulus.
Melihat kondisi desanya itu, Baharuddin menginginkan adanya perubahan dan dia pun segera memutuskan untuk mendirikan sekolah setingkat SMP untuk membantu warga miskin mengakses pendidikan murah dan berkualitas.
Melalui rembukan di antara warga setempat, disepakati pembuatan sekolah alternatif QT yang kurikulumnya tetap didasarkan pada kurikulum nasional (kurnas). Hanya, pada sekolah QT, muatan pengetahuan teknologi informasi dan bahasa Inggris mendapat porsi yang lebih banyak.
Bantuan koneksi internet dari kawan Baharuddin membuat sekolah QT tidak pernah putus dengan jaringan informasi dunia. Para anak didik semangat untuk menggunakan internet guna menghapuskan rasa haus mereka akan ilmu. Hasilnya, sekolah QT bisa unggul jauh dibandingkan sekolah induknya. Bahkan, sejumlah muridnya berhasil menjuarai kontes pidato bahasa Inggris mengalahkan para siswa yang berasal dari sekolah yang berbiaya mahal.
Meski mengadopsi kurnas, Baharuddin mengadopsi pendidikan yang membebaskan muridnya berperan aktif dalam kelas. Para murid, yang merupakan anak-anak dari buruh tani setempat, begitu lantang berbicara di kelas. Mereka berani mengemukakan pendapatnya sendiri. Tentunya, sikap-sikap seperti ini sangat baik sebagai modal mereka untuk mengarungi kehidupan nanti.
Selain sekolah QT di Salatiga, di Bandung ada juga sekolah yang dikhususkan untuk orang miskin, yakni SMA Alfa Centauri. Sekolah ini digagas oleh Sony Sugema, salah seorang pengusaha bimbingan belajar (bimbel). Sony melihat banyak orang miskin yang pintar tidak bisa meneruskan sekolah karena keterbatasan finansial orang tua mereka.
Akhirnya, dengan mengalokasikan sejumlah keuntungan bisnisnya, SMA Alfa Centauri pun didirikan pada Juli 2003. Sekolah ini memang benar-benar gratis. Tidak heran, banyak yang tertarik untuk sekolah di sana. Tentu saja, tidak semua bisa diterima. Karena itu, pihak penyelenggara pendidikan di SMA Alfa Centauri mengadakan seleksi untuk memilih siapa saja yang berhak sekolah di SMA yang terletak di Jln. Supratman Bandung itu.
Model sekolah ala Sony ini seharusnya bisa juga diteladani para pengusaha lainnya. Bagaimanapun, suksesnya wajar 9 tahun butuh kerja sama dari berbagai pihak, termasuk melibatkan peran aktif pengusaha sebagai penyokong dana guna terselenggaranya pendidikan yang berkualitas dan mengakomodasi kepentingan orang miskin.
Daerah konflik
Model sekolah alternatif di sejumlah wilayah konflik, berawal dari hancurnya fasilitas pendidikan seperti yang terjadi di Poso, Sulawesi Tengah pascakonflik Mei 2000. Agar hak masyarakat mengakses pendidikan dasar tidak terputus, sejumlah masyarakat dan LSM yang peduli dengan pendidikan, memutuskan membuat sekolah alternatif.
Para siswa di wilayah Poso dikumpulkan tanpa melihat perbedaan latar belakang mereka, baik dari unsur sara maupun status ekonomi. Para anak didik diberikan pengertian bahwa perbedaan suku, agama di antara mereka bukan sesuatu yang harus dipertentangkan.
Tentu saja, peran mentor atau guru pembimbing untuk mendidik anak-anak di wilayah konflik sangat vital. Para mentor ini harus mampu menangkap gejolak psikologis yang mungkin timbul akibat trauma setelah menyaksikan kerusuhan sosial di wilayah mereka tinggal.
Tentu saja, masyarakat yang hidup di wilayah konflik punya banyak keterbatasan, baik dari aspek ekonomi maupun aspek lainnya, sehingga kehidupan mereka ditopang dana dari pemerintah atau lembaga lainnya. Karena itu, untuk pembiayaan pembuatan sekolah alternatif di wilayah konflik, sudah jelas para orang tua harus dibebaskan dari biaya pendidikan anak-anak mereka. (Icha/”PR”)*** PIKIRAN RAKYAT - Senin, 02 Mei 2005

Selasa, 07 September 2004

SMA Alfa Centauri

SMA Alfa Centauri Semuanya Gratisann...

Belia nyadar nggak sih, kalau biaya sekolah sekarang ini mahalnya minta ampun? Nyadar juga nggak, dengan biaya sekira empat sampai lima juta rupiah untuk sebuah Sekolah Menengah Atas (SMA) favorit di Bandung, Belia baru bisa terdaftar menjadi salah seorang murid di sekolah tersebut? Well, if you concern about it, check this school out!
Punya kapasitas otak di atas standar temen-temen yang lain yang beruntung bisa masuk sekolah negeri, tapi nggak punya duit sebanyak itu? Don't worry! Ada satu sekolah yang bisa bikin otak Belia nggak nganggur sekaligus Belia nggak perlu ngeluarin biaya yang bikin puyeng kepala ortu Belia. Wah! Di mana? Di sini, di SMA Alfa Centauri, Belia bisa belajar seperti temen-temen lain dengan tanpa mengeluarkan biaya, alias gratiss..
Sekolah milik Yayasan Takwa Cerdas Kreatif ini berdiri sejak bulan Juli tahun 2003 lalu. Karena baru banget, makanya anak-anaknya pun nggak banyak. "Hanya dua kelas. Kelas satu sebanyak 41 orang dan kelas dua 37 orang," ungkap Bapak Drs.Yandi Wahyu R., Pembina Sekolah urusan fasilitas. Sekolah yang menyatu de-ngan SSC Jalan Diponegoro ini didirikan dengan latar belakang dari keinginan untuk mengelola sekolah gratis dari Bapak Sony Sugema. "Walaupun sekolah ini baru, tapi semua yang diajarkan sudah mengacu kepada yang digariskan oleh Dinas Pendidikan," jelasnya lagi.
Nggak cuma biaya sekolah yang gratis, buku-buku pelajaran di sekolah ini juga disubsidi dari Yayasan Takwa Cerdas Kreatif tadi. Kasarnya sih, Belia tinggal datang, duduk, belajar, dan nggak perlu mikirin semua biaya tadi, kecuali ongkos untuk pulang pergi aja, hehe.. Eh, plus seragam juga deng! Pengen masuk ke sekolah ini? Ada syarat yang mesti dipenuhin sama Belia juga! "Kita di sini mengutamakan anak-anak yang yatim piatu, anak yang orang tuanya memiliki penghasilan di bawah satu juta rupiah, plus ada tes akademik juga dari sini," lanjut Pak Yandi yang juga sempat mengajar pelajaran bahasa Inggris di Alfa Centauri.
Nggak nanggung-nagngung, pas pertama kali dibuka pendaftaran, sekira 400 orang lulusan SMP di Bandung dan sekitarnya, ikutan tes akademik ini. Setelah dilakukan seleksi, terjaringlah 41 orang siswa yang beruntung untuk bisa belajar di sini. Selain biaya sekolah yang gratis juga, temen-temen Alfa Centauri yang berada di kelas dua, juga didaftarkan ikutan bimbingan belajar (bimbel) SSC untuk persiapan kelas tiga nanti, gratis juga! "Ini agar target untuk mereka lulus di universitas atau PTN terpenuhi."Bukan berarti sekolah gratisan ini bikin para siswanya tinggal enak-enakan aja dateng dan belajar.
Menurut beberapa orang temen yang sempet ngobrol dengan belia, mereka justru merasa terbebani dengan gratisnya biaya di sekolah ini. "Bukan beban kayak gimana sih, tapi saya ngerasa jadi kayak punya utang aja. Dan itu harus dibayar dengan prestasi yang bagus," ujar Andri Supriatna, ketua OSIS Alfa Centauri. Begitu juga pendapat dari Bobby Rifki. Cowok kurus ini juga bilang kalau prestasinya selama ini belum bisa bikin dirinya lepas dari tanggung jawab untuk belajar lebih giat lagi. Lain lagi sama yang dibilang Icha.
Cewek berjilbab yang punya nama panjang Deisha Kusumaningsih ini, pengen ngebuktiin kalau angkatan pertama dari sekolah ini, prestasinya nggak kalah de-ngan anak-anak sekolah lain. Terbukti pas mereka ikutan try out di SSC, dan beberapa orang dari temen-temen Alfa Centauri, berhasil masuk sepuluh besar peringkat tertinggi untuk SSC se-Bandung. Wah, wah... Belia sempat terharu juga pas denger mereka bilang kayak gitu. ***
tisha_belia@yahoo.com - Pikiran Rakyat - Belia - Selasa, 07 September 2004.

Jumat, 13 Agustus 2004

Wujudkan Mimpi Sekolah Gratis



Semua berawal dari sebuah keprihatinan. Gara-gara perguruan tinggi negeri ramai-ramai menaikkan biaya pendidikan, dengan alasan otonomi kampus, lembaga pendidikan di bawahnya ikut-ikutan. Tengok saja, sekolah-sekolah lanjutan, baik di tingkat pertama maupun atas, seolah berlomba mengeruk fulus dari kantong orangtua calon siswa. Celakanya, duit yang dipungut sekolah negeri itu sering kali melebihi pungutan sekolah swasta. Walhasil, anak-anak pintar dari kalangan ekonomi lemah harus terpental dan menganggur. "Kalau orang miskin tidak lagi berpeluang mengubah nasibnya lewat pendidikan, ini berbahaya. Kerawanan sosial bisa timbul karena mereka tak lagi punya harapan," kata Sony Sugema, 39 tahun. Tak hanya omong doang, bos Bimbingan Belajar Sony Sugema College ini langsung turun tangan memberikan alternatif jawaban. Lalu, pada 2002, lahirlah SMU Alfa Centauri di Jalan Diponegoro, Bandung. Bagi siswa yang diterima di sekolah ini, mereka tak usah bayar uang sekolah alias gratis. "Saat ini, jumlah siswanya 80 orang, separuh kelas I dan separuh lagi duduk di kelas II," katanya. Meski tanpa biaya, bukan berarti soal kualitas diabaikan. Calon siswa yang kebanyakan dari kalangan duafa itu mesti menjalani seleksi kemampuan otak. Maklum, Sony ingin kualitas sekolahnya sebanding dengan sekolah-sekolah favorit di Bandung. Keinginan itu mulai menunjukkan tanda-tanda berhasil. Modal otak encer, ditambah gosokan tangan dingin para guru yang biasa mengajar di bimbingan belajar, kemampuan siswa Alfa Centauri mulai terbukti. Sekadar contoh, beberapa waktu lalu, siswa kelas I diminta menjawab soal-soal bahasa Inggris untuk Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru. Ternyata, hasilnya oke. Malah, ada yang bisa menjawab soal-soal yang ada secara benar sampai 81 persen. "Bayangkan, mereka baru kelas I. Kalau sudah ditambah pelajaran di kelas II dan III, untuk bisa masuk ke kampus favorit, rasanya tak jadi masalah," ujar peraih penghargaan 50 Top Enterprise versi Accenture dan majalah Swa ini. Setelah Alfa Centauri berjalan, niat Sony untuk mewujudkan mimpi sekolah gratis bagi kalangan tak berduit tetap berkobar. Akhirnya, lewat Yayasan Gapura (Gerakan Amal Pendidikan untuk Rakyat) yang resmi berdiri pada 6 Mei 2004, keinginan Sony bisa terwujud. Bersama sejumlah tokoh di Bandung, seperti Dada Rosada (Wali Kota Bandung), Edi Siswadi (Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung), Dana Setia (Ketua Dewan Pendidikan Kota Bandung), dan Ny. Feny Mustafa (pemilik Shafira House), yayasan membuka SLTP Terbuka. Rencananya, sekolah gratis itu akan hadir di 26 kecamatan sekota Bandung. Hingga saat ini, sudah ada 15 SLTP yang siap beroperasi. Satu kelas rata-rata menampung 40 siswa. "Dijamin tidak ada iuran atau pungutan di tengah jalan. Kalau kencleng (sumbangan sukarela) mungkin ada. Untuk urusan ini, nama saya jadi jaminan!" itulah jawaban Sony, ketika ada orangtua murid SLTP Terbuka, Kecamatan Batununggal, yang bersikap kritis. Bagi orangtua siswa yang hadir, jawaban itu sungguh melegakan. dwi wiyana - KORAN TEMPO - Jumat, 13 Agustus 2004

Selasa, 29 Juli 2003

Alfa Centauri Peduli

Isa Ansyarullah , Siswa Angkatan Pertama (2003-2004) menerima beasiswa dari Ketua Yayasan Taqwa Cerdas Kreatif Bp. H. Sony Sugema, MBA pada peresmian SMA Alfa Centauri di Jl. Supratman 88 (Kampus 1 SMA Alfa).